ARTI PENTING MITE DALAM IMAN
Malin Kundang, siapa tidak kenal? Buyuang dari Sumatera Barat ini tokoh fiktif yang berperan antagonist namun amat berjasa. Saya tidak berani melawan mama saya karena takut dikutuk menjadi batu. Sekarang, setelah saya "sudah besar" pun, masih bertekad untuk tidak akan mendurhakai orangtua seburuk apapun keberadaan mereka. Bukan lagi karena takut seperti Malin Kundang, melainkan terlebih karena they do deserve my honour.
Myth ini terbungkus "bukti-bukti autentik" yang membuatnya seolah "based on true story". Memang ada batu menyerupai kapal terdampar plus patung manusia bersujud minta ampun. Onde… mande… urang awak ini pintar sekali membuat mitos dengan kemasan histori. Ingat pula novel Marrah Rusli "Sitti Nurbaya", cuma novel, bukan biografi orang yang betul-betul ada, tokoh-tokohnya Sitti, Syamsul Bahri, Datuk Meringgih, semuanya fiktif. Namun aneh bin ajaib, di pinggir kota Padang ada makam yang diklaim sebagai makam Sitti Nurbaya, jadi obyek wisata, mendatangkan devisa "Pendapatan Asli Daerah (PAD)".
Myth, o myth…
Saya menjunjung tinggi the moral of their story. Mitos tidak ditujukan untuk membodohi pendengarnya, menakuti anak dengan ancaman dikutuk jadi batu kalau melawan mamah. Mitos merupakan "media da’wah" yang terbukti efektif. Dalam bukunya "Sebutkanlah Nama-nama Kami" Song Choan Seng menaruh apresiasi mendalam terhadap tradisi bercerita.
So what, jika kenyataannya Alkitab kita diperkaya dengan ikut nimbrungnya mitologi-mitologi? So what, jika tokoh bernama Ayub itu mungkin saja tokoh fiktif. So what, jika the moral of Jona/Yunus bukanlah terletak seorang yang "dengan mujizat ajaib" bermalam tiga malam di perut ikan, lalu "horeee… haleluya… mujizat itu nyata…." namun message kitab itu sesungguhnya: Allah mengutus umat perjanjianNya (kerajaan imam, Kel. 19 renungan Minggu lalu) menyebarkan kasihNya juga pada orang Ninive? Filosofinya, umat harus bersedia diutus ke manapun. Bahkan Yesus menggunakan cerita Yunus ini untuk mengumpamakan kematianNya "sama seperti Yunus tiga malam di perut ikan, demikian Anak Manusia.."
Namun yang terjadi, renaisans menjunjung sains, segala sesuatu harus ilmiah, menomorduakan mitos, bahka membuangnya. Logos adalah segala-galanya. Agar dapat diterima "kehendak zaman" yang seperti itu, orang Kristen me-logos-kan semua yang ada dalam Alkitab. Semua dianggap historis, yang berbeda pandangan dari itu: sesat.
Padahal, myth juga bermanfaat. Iman seseorang tidak harus di-terminate karena mendapati bahwa ada bagian Alkitab yang tidak historis. Sama seperti kita tidak lantas menjadi pembangkang setelah mengetahui bahwa Malin Kundang itu bukan kisah nyata. Atau, seseorang tidak lantas terdorong mengawini aki-aki kaya setelah mengetahui bahwa Sitti Nurbaya juga tokoh fiktif, dan kuburannya juga fiktif.
So how? Mungkin pandangan saya benar, mungkin juga salah. Mohon pencerahan. Seperti filsafat Hegellian, ada thesis, antithesis, lalu sinthesis, begitu terus siklusnya. Very natural. Monggo ditanggapi.
Salam,
A.M.T. HARRISAKTI
Minds are like parachutes.
They only work when open.