Inerrancy, Infallibility, Historisitas, sampai Via Dolorosa
Pendahuluan
Penganut inerrancy berpemahaman bahwa Alkitab kristen -setidaknya pada naskah aselinya, tidak dapat salah, termasuk menyangkut ilmu pengetahuan dan sejarah. In-err-ant. Ini slightly differs from (beda tipis dengan) infallibility. Infallibility menerima kesalahan kecil dalam Alkitab, antara lain menyangkut bilangan, tahun, kronologi. Penganut infallibility tidak pusing apakah Alkitab benar secara sejarah. Kalau mau tahu sejarah, buka buku sejarah, bukan Alkitab. Namun, sebagai petunjuk moral ideal, petunjuk religius, penganut infallibility percaya Alkitab tidak dapat salah.
Fakta
Alkitab memuat banyak sekali peristiwa-peristiwa mitologis, bukan historis. Artinya, tidak sungguh terjadi. Kejadian 1-11 mitos semuanya. Bahkan Injil bukanlah biografi historis atas kehidupan Yesus. Mau tau Yesus sejarah, yaitu Yesus yang pernah hidup dalam sejarah, tanya sejarawan, tanya John D. Crossan yang menekuni Yesus sejarah, bukan memperlakukan Injil sebagai biografi yang historis. Injil lebih cenderung bersifat teologis ketimbang historis. Injil lebih merupakan kredo apologetis atas tantangan yang dialami suatu paguyuban kristen (misalnya Injil Yohanes untuk Johannine Community, atau Injil Markus untuk Markan Community).
Jadi jangan perlakukan Injil sebagai sejarah yang harus benar-benar terjadi, apalagi urutan kronologisnya harus tepat, anda akan kecewa. Sebagai bible study kecil-kecilan, mari buka bahagian Alkitab, sbb:
Injil Markus (juga Matius dan Lukas, injil sinoptik) bersaksi, setelah Yesus dibaptis Yohanes, Roh memimpin dia ke padang gurun selama 40 hari (Mark 1: 12-13). Yesus kembali dari padang gurun setelah 40 hari dan Yohanes pembaptis ditangkap (ay 14), dan baru kemudian memangil murid-murid pertamaNya (ay 17-19).
Injil Yohanes yang mengklaim ditulis oleh saksi mata, cukup "teliti" mengisahkan peristiwa pembaptisan Yesus. "Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia." (Yoh 1:29). Singkat cerita Yesus dibaptis Yohanes. Di ayat 35-51, Yesus memanggil murid-murid pertama "pada keesokan harinya". Tidak nunggu 40 hari atau nunggu Yohanes ditangkap.
Secara historis, secara kronologis, mana yang betul?
* * * * *
Satu lagi yang menarik soal historisitas iman kristen. Via dolorosa itu tidak ada. Apa yang dikenal dengan "Jalan Sengsara" (via dolorosa) Yesus yang terdiri dari 14 stasi (14 stations), 9 diantaranya tidak historis melainkan produk teologi beberapa abad zaman bersama (ZB). Yesus tidak sungguh-sungguh berkeliling kota memanggul salib, juga perempuan yang menyeka wajah Yesus (Veronica) juga tradisi yang tidak historis.
Munculnya tokoh Simon Kirene (bapa dari Rufus Alexander) dalam injil sinoptis (tetapi tidak di Injil Yohanes) juga tidak historis. Penulis injil sinoptis memasukkan tokoh imajiner bernama Simon Kirene sebagai sindiran kepada para murid. Lho kok bisa? Bisalah. Ketika Yesus memanggil murid-muridNya, Yesus memanggil untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikutNya. Tetapi ketika Pak Guru Yesus ditangkap, semua murid, termasuk Simon Petrus, lari tunggang langgang, dan hanya mengikuti dari kejauhan. Munculnya tokoh Simon Kirene merupakan "Simon yang lain", figur murid yang ideal, yang siap memanggul salib.
Via dolorosa dengan ke-14 stasi-nya bukan laporan historis, tetapi suatu "bangunan teologis" yang dirancang para engineer abad pertama ZB.
Nah, bagaimana? Masih ngotot mempertahankan inerrancy, bahwa laporan Alkitab benar secara historis?